Rabu, 02 September 2009

KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG AQIDAH ASY'ARIYYAH; AQIDAH

As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: "Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah.
Penisbatan nama kepadanya karena beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf,hujjah (argumentasi) yang beliau pakai sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, karenanya para pengikutnya kemudian disebut Asy'ariyyah.

Abu al-Hasan al-Asy'ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama'ah.
Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat.

Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis, demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari".
Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa "kelompok yang benar adalah kelompok Asy'ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy'ari.Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi'in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita.Kemudian beliau melantunkan satu bait sya'ir:
"وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر"
"Jadilah pengikut al Asy'ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yangbersih dari kesesatan dan kekufuran".

Ibnu 'Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar 'ala ad-Durral Mukhtar : "Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah al Asya'irah dan al Maturidiyyah".
Dalam kitab 'Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan :"Aqidahku adalah aqidah Asy'ariyyah Hasyimiyyah Syar'iyyah sebagaimana aqidah para ulama madzhab syafi'i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah".

Bahkan jauh sebelum mereka ini Al Imam al 'Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwaaqidah al Asy'ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi'i, madzhabMaliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah)

Apa yang dikemukakan oleh al 'Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu 'Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama MadzhabMaliki di masanya),
Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi dimasanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.

GARIS BESAR AQIDAH ASY'ARIYYAH

Secara garis besar aqidah asy'ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnahwal jama'ah adalah meyakini bahwa Allah ta'ala maha Esa dan tidak ada sekutubagi-Nya,

Allah bukanlah benda yang bisa digambarkan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya(laysa kamitslihi syai').
Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagiada-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Ia tidak diliputi arah.
Ia ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Iapun ada setelah menciptakan tempat tanpa tempat.

tidak boleh ditanyakan tentangnya kapan,dimana dan bagaimana ada-Nya. Ia ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Mahasuci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Ia tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru.

Ia tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam,menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya.Ia tidak terjangkau oleh fikiran dan Ia tidak terbayang dalam ingatan, karena apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu.

Ia maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Iaberbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain jugaazali, karena Allah berbeda dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh ia telah kafir.
Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Ia juga yang mengatur rizki dan ajal mereka. Tidak ada yang bisa menolak ketentuan-Nyadan tidak ada yang bisa menghalangi pemberian-Nya.

Ia berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Ia kehendaki. Ia tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkanhamba-Nyalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan-Nya.Apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi. Ia disifati dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Ia maha suci dari segala bentuk kekurangan.

Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Iadiutus Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia.Ia jujur dalam setiap apa yang disampaikannya.
semoga bermanfaat amieen..[]
sumber http://www.darulfatwa.org.au/ --->majlis ulama australia

Ahlussunnah Waljama'ah GOLONGAN YANG SELAMAT

Rasulullah bersabda:
Maknanya: “
…dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 diantaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnyayang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi).
Yang merekalakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal,mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah rajaNamrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal.
Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagaipeletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeda dengan para filosof yang berbicaratentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penalaranakal semata.
Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaranyang dibawa para nabi.
Tuduhan kaum Musyabbihah; kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah (anakbibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan karena lebih mengedepankan akal, adalah tuduhan yang salah alamat.
Ini tidak ubahnya seperti seperti kata pepatah arab“Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut).
Secara singkat namun komprehensif, kita ketengahkan bahasan tentangAhlissunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya,dasar-dasar ajaran dan sistematikanya.
PEMBAHASAN
Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang faham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah.
Bahkan dengan tegas dan gamblang Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kitatempuh agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; mayoritas umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan
kepada Rasul-Nya, Muhammad , bahwa umatnya tidak akan tersesat selamamereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka
.Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpamereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas.
Mayoritas umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah AhlussunnahWal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti merekadalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); yaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasariman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Jibril:"
Maknanya: “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”.(H.R. al Bukhari dan Muslim)
Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai mayoritas umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan olehRasulullah dalam sabdanya :"
Maknanya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian --mengikuti-- orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka“.
Dan termasuk rangkaian hadits ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah danjauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari duao rang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Turmudzi, ia berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).
Al-Jama’ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang yang selalu menjalankan shalat dengan berjama’ah, jama'ah masjid tertentu atau dengan arti ulama hadits, karena tidak sesuai dengan konteks pembicaraan hadits ini sendiridan bertentangan dengan hadits-hadits lain. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah mayoritas umat Muhammad dari sisi kuantitas.
Penafsiran ini diperkuat juga oleh hadits yang kita tulis di awal pembahasan.Yaitu hadits riwayat Abu Dawud yang merupakan hadits Shahih Masyhur,diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat.
Hadits ini memberi kesaksian akan kebenaran mayoritas umat Muhammad bukan kebenaran firqah-firqah yangmenyempal. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyempal ini, dibanding pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit.
Selanjutnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah dikenal istilah “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah WalJama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi:
Maknanya: “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abadsetelah mereka”.(H.R. Tirmidzi)
Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru.
Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– datang dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahaba tnabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya. Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya.
Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (parapengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh olehal-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.
Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagianmasalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanyasaling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepasdari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah).
Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah rmelihat Allah pada saat Mi’raj?. Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’udmengatakan bahwa Rasulullah r tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj.Sedangkan Abdullah ibn 'Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allahdengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammadr sehingga dapat melihat Allah.
Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H)mengatakan:
"Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6)
Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalahaqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabidan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki,Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).
Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita. Dan al-Hamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin diseluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutamaal-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko,Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi dinegara-negara lainnya.
Maka wajib bagi kita untuk senantiasa penuh perhatian dan keseriusan dalammendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan mayoritas.Karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokokatau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar.Karenanya, mempelajari ilmu ini harus lebih didahulukan dari mempelajari ilmu ilmu lainnya.
Setelah cukup mempelajari ilmu ini baru disusul dengan ilmu-ilmuyang lain. Inilah metode yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi semacam ini sudah ada dari masa Rasulullah, sebagaimana dikatakan sahabat Ibn 'Umar dansahabat Jundub
"Maknanya: “Kami -selagi remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajariiman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an makabertambahlah keimanan kami". (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri)."
Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya golongan yang mengatas namakan Islam justru menentang aqidah Islamyang benar dan banyaknya kalam (adu argumentasi) dari setiap golongan untuk membela aqidah mereka yang sesat.
Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).
Akan tetapi ilmu kalam terbagi menjadi dua bagian: ilmu kalam yang terpuji dan ilmu kalam yang tercela.
Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam karena sengaja dikarang dan ditekuni oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya,sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya.
Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji karena pada hakekatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematis dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli.
Dasar-dasar ilmu kalam ini telah ada di kalangan para sahabat. Di antaranya,sahabat 'Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kuat dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Demikian pula sahabat 'Abdullah
ibn Abbas, al-Hasan ibn 'Ali ibn Abi Thalib dan 'Abdullah ibn Umar jugamembantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in; imam al-Hasan al-Bashri, imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu sayyidina Ali ibn AbiThalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah.
Kemudian juga para imam dari empat madzhab; imam Syafi’i, imam Malik, imamAbu Hanifah, dan imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini.
Sebagaimana dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalamkitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalamkitabTabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al 'Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram danlain-lain.
Allah berfirman:
Maknanya: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhakdisembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu". (Q.S. Muhammad :19)Ayat ini dengan sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid.Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama.
Ketika Rasulullah r ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliaumenjawab:
Maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R. Bukhari)Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah r mengkhususkan dirinya sebagai orangyang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda:
"Maknanya: “Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takutkepada-Nya”. (H.R. Bukhari)"
Karena itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini.
Seperti Risalah al-'Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al-Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al 'Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H).
Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al 'Aqidah ash-Shalahiyyah.
Sulthan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i,mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al 'Aqidah as-Sunniyyah. Beliau
memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al 'Aqidah as-Sunniyyahdi waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negaraSyam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yamansebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ilaMusamarah al Awa-il dan lainnya.
Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yangtelah dikarang dalam menjelaskan al 'Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisanitu terus berlangsung.
Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawaaqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah.Amin. []

Setiap Pemimpin akan ditanya tentang Ra'iyyah -nya

Orang tua sebagai pemimpin unit terkecil disebuah komunitas masyarakat, yaitu keluarga memiliki tugas ganda dalam kehidupan ini. Tugas pertama adalah memperbaiki diri dan tugas ke dua adalah memperbaiki keluarga; isteri dan anak-anaknya.
Sebagai hamba Allah seperti halnya individu individu yang lain, orang tua berkewajiban untuk menjaga dirinya dari neraka dengan mempelajari ajaran agama dengan baik lalu mengamalkan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Karena pada hakekatnya manusia di dunia ini hanya ada dua;yaitu orang yang berusaha menyelamatkan dirinya dari neraka hingga ia berhasil membebaskannya dan yangke dua adalah orang yang berusaha –yustru- untukmencelakakan dirinya.
Rasulullah bersabda:"الناس غاديان فغاد في فكاك نفسه فمعتقها ، وغاد فموبقها ".رواه ابن حبان والترمذي
Namun lebih dari itu, sebagai seorang pemimpin dan yang bertanggung jawab atas anggota keluarga-nya, orang tua dituntut untuk mendidik, membina dan membentuk sebuah keluarga yang taat kepada Allah dan RasulNya.
Dalam ayat-ayat dan hadits yang menjelaskan kewajiban ini sering disebutkan pribadi orang tua terlebih dahulu sebelum keluarga seperti dalam ayat 6 surat at-Tahrim: "Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …".Ini menunjukkan bahwa dalam membina orang lain terutama keluarga keteladanan merupakan suatu keniscayaan.
Pepatah arab mengatakan : "ابدأ بنفسك ثم بمن تعول"
"Mulailah dari dirimu, kemudian disusul dengan orang yang menjadi tanggung jawabmu".
Tanpa keteladanan akan sangat sulit mewujudkan sebuah ketaatan massal, dari skala terkecil satu orang hingga ke keluarga, dari keluarga menular kemasyarakat dari tingkat terkecil terus meningkat keyang lebih besar hingga membentuk sebuah ummat yang taat kepada Allah ta'ala.
Jika keteladanan sudah diupayakan namun belum juga nampak hasilnya, jangan lupa untuk bersabar dengan terus memberikan keteladanan tanpa henti,karena kesabaran adalah kunci kesuksesan. Allah ta'ala berfirman:( ( وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها) (سورة طه : 132Maknanya: "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya…" (Q.S. Thaaha : 132)
Ingatlah Wahai para orang tua, ada akhirat yang menanti anda dengan segala konsekwensi dari semua perbuatan anda. Setiap individu akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya, setiap pemimpin akan ditanya tentang Ra'iyyah (yang dipimpin)-nya.
semoga bermanfaat
sumber http://www.darulfatwa.org.au/ ---->majlis ulama australia

Selasa, 01 September 2009

Amal2 Wajib lebih baik dari Amal2 Sunnah

"Man Syagolahul fardhu 'aninnafli fahuwa ma'dzuur, waman syagholahun naflu 'anil fardhi fahuwa magruur"<ulama>

Orang yang disibukkan dengan amalanfardlu (wajib) sehingga tidak sempat mengamalkan yang sunnah maka ia dimaafkan, dan orang yang disibukkan dengan amalan sunnah dan mengabaikan amalan fardhu maka ia tertipu.
Umar ibn Abdul Aziz mengatakan: "Amalanyang tidak didasarkan atas ilmu, maka kerusakan yangia timbulkan lebih banyak dari kebaikan".
Thariqah (tarekat) yang belakangan ini banyak digandrungi oleh masyarakat kita sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah sebuah amalan yang baik, namun bila tarekat itu dilakukan tanpa didasari ilmu yang benar maka seseorang akan mudah terjerumus.

Karenanya tidak sedikit kita temukan tarekat tarekat yang pada awalnya murni, bersih dari penyimpangan-penyimpangan dari syari'at Islam dan dirintis oleh ulama-ulama sufi yang hakiki, kini banyak mengalami perubahan yang mengarah kepada penyimpangan dari ajaran syari'at Islam.

Ini semua terjadi karena dangkalnya ilmu orang yang menjalankan tarekat tersebut. Hingga sebagian orang meyakini bahwa tarekat adalah wajib atau dzikir secara mutlak adalah wajib.
Bahkan dalam beberapa tarekat menyebar paham Hulul (keyakinan bahwa Allah menempatimakhluk-Nya) dan Wahdatul Wujud (keyakinanbahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya) yang merupakan salah satu bentuk kekufuran yang sangat keji dan parah,
lebih parah dari kekufuran orang nasrani sekalipun seperti dijelaskan oleh Imam as-Suyuthi dan lainnya.
Tarekat adalah upaya untuk meneladani akhlak para Ahlullah; para wali dan orang-orang saleh dan merutinkan dzikir-dzikir tertentu
dengan cara tertentu yang tidak menyalahi syara'yang dicetuskan oleh pendiri tarekat. Tarekat bermuara kepada ketakwaan dan kesalehan yang sesungguhnya.
Tarekat adalah pelengkap, modalutamanya adalah bertakwa, yaitu melaksanakan kewajiban dan menjauhi hal-hal yangdiharamkan.

Tarekat hukumnya sunnah artinya baik dilakukan tetapi tidak berdosa jika ditinggalkan. Kita jangan sampai menjadi orang-orang yang tertipu karena mengikuti tarekat lalu amalan-amalan yang hukumnya wajib cenderung kita abaikan,

seperti menuntut ilmu agama yangpokok misalnya.Menuntut ilmu agama jauh lebih besar nilai pahalanya dari pada mengamalkan tarekat, karena menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim dan muslimah.Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman melalui lisan Rasul-Nya:"Dan tidaklah ada amalan seorang hamba untukmendekatkan diri kepada-Ku lebih Aku cintai dariamalan yang Aku wajibkan" (H.R. al Bukhari)

copy from http://www.darulfatwa.au/ -->majlis ulama austaralia

I S L A M adalah agama yang haq

Seorang muslim meyakini bahwa satu-satunya agama yang benar adalah Islam dankarenanya ia memilih untuh memeluknya, bukan memeluk agama-agama lain.
Allah mengutus paraNabi dan Rasul untuk membawa Islam dan menyebarkannya dan memerangi, menghapus serta memberantas kekufuran dan syirik.
KetikaRasulullah menjelaskan makna penamaan dirinyasebagai al Mahi , beliau mengatakan :" وأنا الماحي الذي يمحو الله بي الكفر""Aku adalah al Mahi; yang dengan (mengutus)ku Allah menghapus kekufuran"Sebagian orang beriman, merekalah orang yangberbahagia. Sebagian lainnya tidak beriman,merekalah orang yang celaka dan akan masuk neraka serta kekal di dalamnya selama-lamanya.
Allah menurunkan agama Islam untukdiikuti. Seandainya manusia bebas untuk berbuatkufur dan syirik, bebas untuk berkeyakinanapapun sesuai apa yang ia kehendaki, Allah tidak akan mengutus para Nabi dan para Rasul dan tidak akan menurunkan kitab-kitab-Nya.
Sedangkan firman Allah:( فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر )"Barangsiapa berkehendak maka berimanlah, dan barangsiapa berkehendak maka kafirlah".Ayat ini maknanya bukan memberi kebebasan untuk memilih antara kufur dan iman (Takhyir),melainkan untuk tujuan ancaman (tahdid).
Karenalanjutan ayat tersebut adalah "Dan Kamimenyediakan neraka bagi orang-orang kafir".Kemudian firman Allah:( لا إكراه في الدين )Ayat ini bukan larangan untuk memaksa orang kafir masuk Islam, karena ayat ini menurut suatupenafsiran telah dihapus (Mansukhah) oleh ayat as-Sayf. Ayat as-Sayf adalah ayat yang berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir. Sementara menurut penafsiran lain, ayat di atas berlaku bagi kafir dzimmi saja.Bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan; orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir,
ini adalah kehendak Allah. Allah berkehendak untuk memenuhi neraka dengan mereka yang kafir, baik dari kalangan Jin maupun manusia. Namun demikian Allah tidak memerintahkan terhadap kekufuran, dan Allah tidak meridlai kekufuran.
Karena itu, dalam agama Allah tidak ada pluralisme agama sebagai suatu ajaran dan ajakan. Juga tidak terdapat apayang disebut dengan sinkretisme; paham yang menggabungkan "kebenaran" yang ada pada beberapa agama atau semua agama.
Orang yang mengatakan ada agama yang benar selain Islam bukanlah orang muslim dan tidak memahami Islam..Semoga bermanfaat, Wallahu al Haadi.[]